Belum terselesaikan waktu bongkar muat atau dweeling time barang impor diselesaikan, kini masalah baru barang yang akan diekspor terlantar dikapalkan, Pelindo ll yang tidak bisa memberikan pelayanan terbaik hingga menimbulkan kemacetan sangat parah. Jumlah container yang mencapai ribuan tidak bisa masuk ke Pelabuhan Tanjung Priok sejak hari Jumat hingga malam Minggu tak dapat begerak.

Puluhan petugas dari Polres Pelabuhan yang dikerahkan selama dua hari dua malam tidak lagi mampu mengatasi kepadatan angkutan petikemas. Polisi mengatur supaya kendaraan tertib agar tidak saling bertengkar lantaran tidak sabar.

Kemacetan yang terjadi selama dua setengah hari tersebut terlihat di Jalan Yos Sudarso hingga Perempatan Senen, Jl Raya Pelabuhan hingga Cakung Cilincing, Jl RE Martadinata , Jl Enim, hingga Jalan Lodan Kota. Tidak hanya pada jalan utama saja, beberapa jalan alternatif seperti kawasan Kelapa Gading, Pulogadung, Cempaka Putih, PRJ Kemayoran , Kawasan Sunter, , Jl Bugis, Rawabadak, Marunda, Plumpang dan jalan lainnya ikut kena dampaknya, kendaraan trailer mendominasi di jalan tersebut hingga tidak bergerak mengarah ke dalam Pelabuhan Tanjung Priok.

Supir – supir trailer bahkan mengaku mereka menginap di mobilnya lantaran kendaraan nyaris tidak bergerak, walaupun jalan hanya beberapa meter lalu berhenti kembali. “Majunya lima meter, tapi berhenti lagi berjam-jam, sampe mesin mobil kami matikan,” tutur Luhut, supir trailer.

Warga Tanjung Priok, Kelapa Gading, Cilincing, Sunter, mengaku kesal karena mereka merasa terganggu dengan kemacetan yang terjadi oleh kendaraan berat. Dampak lainnya angkutan umum dan bus TransJakarta dari PGC ke Tanjung Priok atau Pluit-Priok hanya sampai di Sunter. Banyak penumpang angkutan umum yang berjalan kaki sambill menggerutu menyalahkan otoritas pelabuhan yang dianggap tidak mampu mengatasi berbagai masalah yang terjadi di Pelabuhan Tanjung Priok selama ini.

Kasat Lantas Polres Pelabuhan Tanjung Priok menjelaskan kemacetan dikarenakan pengapalan yang biasanya dilakukan di terminal JICT tapi dialihkan ke lapangan 300 dan 305 yang dikelola PT MAL. “Padahal kalau di JICT lebih luas dan peralatannya alat tanggo dan timbangan mencukupi, tapi entah kenapa dipindah ke dermaga MALL.

Kasat menjelaskan awalnya hanya satu tanggo (alat beras mengangkat petikemas) dan satu timbangan peti kemas, kemudian karena tidak mampu mengatasi kecepatan pemindahan barang lalu didatangkan dua tanggo lagi, hingga Minggu pagi kemacetan baru bisa terurai.

Kutipan : pos kota news

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *