Dikutip dari tribunnews, Jeneponto menyebutkan jika Daeng Ngerang (33) yang merupakan satu dari tujuh penumpang mobil nahas yang mengalami kecelakaan di Kelurahan Mangngadu, Kecamatan Mangngarabombang, poros Takalar, Jumat (22/12/2017).

Daeng Ngerang sendiri merupakan menantu dari kepala keluarga Alimuddin Daeng Sikki (57) yang menjadi korban meninggal dalam kecelakaan maut yang menewaskan 6 orang asal kampung Bontote’ne, dusun Kalongkong, Desa Barana, Kecamatan Bangkala Barat, Jeneponto.

Ketika ditemui pada rumah duka, Daeng Narang ditinggal sang mertua Alimuddin Daeng Sikki, putri pertamanya Rafida Marwah (2), saudara iparnya Syahrir dan Sudarman Daeng Tutu, keponakannya Kayla dan sepupu istrinya Sapri, terlihat masih mengalami syok atas peristiwa tersebut.

Namun saat coba dihampiri, Daeng Narang coba bercerita dengan raut wajah sedih mengenai awal mula tragedi maut yang menewaskan 6 orang keluarganya itu.

“Awalnya di rumah ini istri saya Linda mau melahirkan jadi kita antar ke puskesmas Bulukunyi, Takalar. Di puskesmas mengalami pendarahan makanya akan dirujuk ke rumah sakit Takalar (RSUD Padjonga Daeng Ngalle)”, ujar Daeng Narang.

Saat hendak mendampingi istrinya di atas ambulans menuju Takalar, anak pertama Daeng Narang dan Linda Radifah Marwah menangis di atas mobil merah yang dikemudikan oleh Syahrir. Daeng Narang pun terpaksa ikut menaaiki mobil nahas itu untuk memangku putri pertamanya.

“Ambulans di depan, ini mobil (toyota Ayla) di belakang, tapi memang belum jauh dari rumah sudah mulai oleng itu mobil jadi saya bilang ke Syahrir untuk pelan-pelan,” ujarnya.

Kondisi mobil yang ditumpangi 1 keluarga asal Deda Barana, Jeneponto

Kondisi mobil yang ditumpangi satu keluarga asal Deda Barana Jeneponto yang mengalami kecelakaan di Kelurahan Mangngadu, Kecamatan Mangngarabombang, poros Takalar, Jumat (22/12/2017) pukul 03.00 Wita.

“Pas masuk tikungan Tepo (kelurahan Mangngadu, Takalar) kata Daeng Narang dimana mobil tengah berkecepatan tinggi pas mau menikung, ban sebelah kanan agak terangkat jadi keluar ini mobil dari jalan dan menabrak tiang pembatas jalan, lalu jatuh ke dalam kolam air”, ungkapnya dimana kolam air di sisi kiri tikungan Tepo menurut Daeng Narang memiliki kedalaman sekitar dua meter.

“Jatuh semua lah ke dalam kolam dan terguling-guling semua di dalam, tapi saya sempat ingat kaca mobil di samping saya terbuka tadi jadi saya keluar lewat kaca mobil,” kata Daeng Narang. Setelah keluar dari badan mobil, dirinya pun kembali turun ke kolam dan menyelam mencari anaknya Radifa Marwah dan mertuanya Alimuddin Sikki.

“Saya turun cari tapi belum ketemu, lalu saya naik lagi terus turun kembali menyelam cari anak saya. Jadi saya pecah itu kaca mobil bagian belakang disitu saya masuk ambil anak saya terus tarik mertua saya”, terang Daeng Narang.

Setelah beberapa saat berjibaku seorang diri, jalanan mulai ramai oleh aktivitas pengendara yang lalu lalang. “Waktu saya tarik sendiri keluar belum ada orang, ada orang penjual di toko tapi perempuan jadi tidak bisa juga membantu, tidak lama banyak orang datang jadi saya ambil tali lalu kita tarik naik itu mobil,” tutur Daeng Narang.

Kecelakaan maut itu terjadi saat mengantar Linda istri Daeng Narang, yang mengalami pendarahan saat melahirkan di Puskesmas Bulukunyi Takalar. Saat perjalanan menuju RSUD Padjonga Daeng Ngalle, keluarga Linda yang mengikut dibelakang mobol ambulans pun kecelakaan.

Linda sendiri saat inimenjalani perawat di RSUD Padjonga Daeng Ngalle dalam kondisi kritis akibat pendarahan yang dialami dan syok mendengar kabar duka keluarganya. Kabar terakhir, Linda saat ini dirawat di RSUP Wahidin Sudiro Husodo Makassar.

Sumber : tribunnews.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *